Selamat pagi, Makati.

Pria pria gempal berseragam oranye tampak sibuk mengatur lalu lintas pagi itu. Beberapa bus tampak mengantri menaikkan penumpang di depan sebuah apartemen. Rapi dan wangi. Tak sedikit yang memilih berjalan kaki, bergerombol mencari nafkah ke arah Ayala Ave. Beberapa pekerja bangunan tampak sibuk sedari gelap mengerjakan berbagai macam proyek. Ada apartemen yang baru dibangun, ada jalan layang, ada galian kabel dan lain lain.

Keriuhan saat itu lebih didominasi oleh kendaraan pribadi roda empat dan angkutan umum khas, Jeepney. Mobil dengan mesin truk dengan maksimal penumpang hingga 20 dan aneka ragam bis besar dalam kota. Pengguna sepeda motor bisa dihitung jari setiap lampu merah. Sepanjang tahun 2016 dikabarkan jumlah motor yang terjual skala negara adalah 1,14 juta ekor motor. Kalau Indonesia berapa? 6 juta lebih motor terjual selama 2016. Sekarang sih sudah 2017, coba tengok temen lo yang baru ambil motor baru. Ada berapa?
Makati adalah CBD. Barang serba mahal, serba dikomersilkan. Bayangan paling mudah adalah ketika melihat Sudirman. Jika dibandingkan Parung, apalah arti parung ye kan? Mungkin ada sebagian yang baca, bingung dan kemudian googling, “Dimana Parung?”

Mulai dari tempat makan, rumah, angkutan, rekreasi dan lain lain, harganya agak sedikit berbeda dibanding kota lain. Rasanya agak sulit jika gaya hidup dijadikan topik jawaban atas pertanyaan, “Abis berapa lu hidup sebulan disono?”. Karena gaya hidup orang beda beda juga sih ya. Ada yang sukanya kemana mana jalan kaki karena kalau naik angkot, duluan yang jalan kaki nyampenya atau ada yang lebih seneng makan di restoran yang sekali makan habis 30ribu perporsi atau ada juga yang lebih seneng masak dirumah karena kebetulan tempat tinggalnya memperbolahkan masak didapur dengan kompor api atau listrik.

Gw gimana? Gw masuk ke golongan yang lebih seneng naik angkot dan makan diwarteg. Kadang jalan memang asyik karena kalau naik angkot itu gw lebih banyak ngedumel karena macet. Makan buat muslim kaya gw dan istri, susah susah gampang. Makanan halal susah. Susah dapet yang murah.

Naik kendaraan umum disini umum ya. Mereka seneng banget antri untuk naik Jeepney atau UV Express (semacam van dengan satu tujuan saja). Bis banyak dan jarang kosong. Selain itu mereka Ada MRT, LRT dan PNR. Ketiga ini adalah jenis kereta yang bisa dipilih sesuai tujuan lo. Sayangnya gw ga pernah naik PNR karena ini lebih untuk ke provinsi. Ohya, disini ga ada jalur kereta panjang macam Pasar Senen ke Malang. Kurang tahu juga sih kenapa ga ada.

Budaya barat akan terasa kental kalau lo jalan disini. Lebih banyak sign berbahasa Inggris yang terpampang dijalan. Stir kiri, mobil mobil dengan supir konyolnya yang ga ada edukasi buat ngasih jalan buat pejalan kaki, pedestrian yang lebarnya manusiawi dan terawat. Buat para pria dan wanita yang kesini nyari jodoh mungkin bisa dapat dengan mudah teman ngobrol – yang nanti nya bisa konversikan menjadi lebih spesial lagi- dan lebih serunya lagi adalah kriminalnya. Disini senjata api ga susah ya buat dibeli. Penodongan atau dalam bahasa sini disebut, Hold Up adalah jenis kriminal yang dialami orang asing. Stay Alert whenever you go.

Jollibee

Makanan Cepat Saji tersebar dimana mana. Khususnya di kota besar!

Di Makati, komunitas warga Indonesia banyak. Ada yang karena mereka satu kerjaan, ada yang satu suku, ada juga pelajar pelajar nya. Ada satu hal yang mau gw angkat: Walaupun lo liat, lu denger dan lu tahu dengan sadar di depan ada orang Indonesia, BANYAK BANGET yang menunjukan sikap bodo amat, bahkan untuk say Hi, apa kabar dan lain lain. Sedih yah. Apakah ini sudut pandang gw karena Baper? Engga juga ya, karena sepertinya memang begitu. Tapi gw sih kalau ada orang dari negara sendiri, berusaha menyapa. Tapi susah juga buat gw soalnya harus denger mereka ini ngomong baru ketauan. Seperti halnya ketika lo jalan tiba tiba lihat sosok tinggi semampai, berambut pirang dan make up yang merona, lo ga akan tahu apakah itu cewek beneran atau bukan sebelum denger dia ngomong.

Balada negeri seberang, negara yang jadi tempat berlabuh untuk cari nafkah. Kisah mu kini kutuang di website.